Ukuran dan Epidemiologi Cacing

Cestoda

Taenia saginata
Ukuran panjang cacing dewasa: 4-12 meter. Dalam kondisi tertentu bisa mencapai 25 meter.
Masa pre-paten: 10-12 minggu.
Cabang uterus: 15-20 tiap segmen. 
Taenia saginata dapat menyebabkan taeniasis (infeksi cacing dewasa karena termakan daging yang tidak makan mengandung sistiserkus dari Tenia saginata, Taenia solium, atau Taenia asiatica yang akan berkembang menjadi cacing dewasa dalam tubuh manusia), namun tidak menyebabkan sistiserkosis (infeksi jaringan oleh bentuk sistiserkus karena termakan telur Taenia solium atau mungkin juga Taenia asiatica di Asia yang akan berkembang menjadi sitiserkus). 
Perbedaan Taenia saginata dan Taenia asiatica:
1. Tania asiatica punya scolex
2. Pada gravid proglottid bagian posterior Taenia asiatica terdapat tonjolan
3. Cabang uterusnya lebih dari 57 cabang tiap segmen (pada Taenia solium 8-12) 

 

Nematoda

Nematoda Jaringan

1. Lymphatic Filariasis

  • Bancroftian filariasis tersebar di daerah tropis seperti Asia Tenggara, Amerika Selatan, Amerika Tengah, Kepulauan Karibia, Pasifik, dan Afrika.
  • Malayan filariasis khususnya ditemukan di Indonesia, Korea, Jepang, Sri Lanka, India.
  • L1: 1-3 jam; L2: 3-4 hari; L3: 5-6 hari
  • Masa pre-paten tidak diketahui
  • Masa inkubasi klinis: 8-16 bulan
2. Subcutaneous Filariasis
  • Endemik di Afrika
  • L. loa menyebabkan Loa loa filariasis, dimanapun cacing tersebut berhenti dan menyebabkan inflamasi maka kelihatanlah cacingnya. Menjalari subkutan, salah satunya mata.
  • Onchocerca volvulus menyebabkan River Blindness.

Nematoda Usus

Cacing betina lebih besar daripada jantan.
1. Ascaris lumbricoides
Telur:
1. Fertile (matang di tanah 1-3 minggu)
Corticated fertile --> 3 lapis (albuminoid, hyalin, lipoid)
Uncorticated fertile --> 2 lapis (albuminoid hilang)
2. Unfertile
3. Mature & immature
Lama siklus hidup: 2 bulan
Life span: 8-12 bulan (4-6 siklus)
Dalam paru-paru 10 hari.
2. Hook worm (Necator americanus, Ancylostoma duodenale, Ancylostoma caninum, A. braziliense, A. ceylanicum)
Mengandalkan giginya untuk bergantung. Masuk melalui kulit dari tanah.
3. Trichuris trichiura
Menetas di usus halus 2-4 minggu setelah tertelan
Lama siklus: 3 bulan
Life span: 9-30 tahun (lama yaa..)
4. Pin worm (Enterobius vermicularis dan Oxyuris vermicularis)
Mengakibatkan pruritas ani. Pada anak kecil dengan menggaruk daerah perianal (autoinfeksi). Bisa juga retroinfeksi (larva dari telur yang menetas di sekitar anus masuk kembali ke anus).
Hanya punya 1 hospes yaitu manusia (monoksen).
Frekuensi tinggi pada orang Indonesia terutama anak-anak dari golongan ekonomi rendah. Frekuensi orang kulit putih lebih tinggi ari orang negro.
5. Strongyloides stercoralis
Cacing betina: panjang: 2,2 mm X 0,4 mm, vivipar
Cacing jantan: 0,7 mm x 40-50 mikron
Masuk ke dalam tubuh manusia dalam bentuk filariform.
Infeksi akut berlangsung cepat: batuk, mirip bronchitis. Kronik sering tanpa gejala (asimptomatis).
6. Trichinella spiralis
Penyebaran kosmopolit di Asia Pasifik Selatan dan Australia.
Cacing betina partenogenesis (sekali dibuahi dapat terus berkembang biak), sedangkan jantan mati setelah kopulasi.
Larviposisi selama 8-14 hari. Terjadi kiste selama 21 hari dan selesai sampai 3 bulan. Larva dapat hidup bertahun-tahun.
7. Trichostrongylus spp
Tersebar di Amerika Tengah, Indonesia, mesir, Asia, India, Jepang.
Panjang jantan 5 mm, betina 5-9 mm.
Telur meruncing di kedua ujung. Dinding 1 lapis hyalin, transparan, lebih lonjong dari telur cacing tambang, menetas dalam 24 jam menjadi larva rhabfitiform.
Tumbuh di tanah menjadi larva pseudofilariform dalam 3-4 hari. Menjadi dewasa dalam usus 21 hari atau 3-4 minggu.
Kepala kecil, tidak punya buccal capsule.
Bisa hidup sampai 8 tahun.
Monoksen.
L1-L2: microbiovirous. L3: infektif. L3-L5: immature. L1-L5 disebut molt atau semacam pergantian kulit yang terjadi 2 kali sebelum menjadi cacing dewasa.

Trematoda

Treatoda Darah

  • Telurnya tidak mempunyai operculum dan bila dikeluarkan sudah berisi embrio (miracidium).
  • Perkembangan larva dalam HP (keong) yaitu M – S – S1 – C (Mirasidium-Sporokista-Sporokista1-Cercaria), dan multiplikasi aseksual terjadi pada stadium Sporokista.
  • Cercaria mempunyai ekor bercabang (seperti garpu) & masuk dalam tubuh hospes definitive dengan cara menembus kulit.
  • Waktu pertumbuhan “Schistosomulae” (cercaria yg sudah melepaskan ekornya saat menembus kulit) di dalam vena porta hepatica, mengeluarkan metabolit toksik, menyebabkan reaksi anafilaktik (demam, urticaria, eosinofilia, lekositosis, hepatomegali dan splenomegali). Timbul 4–5 minggu sesudah infeksi. Di Jepang dikenal dengan “Katayama fever”. Gejala tersebut sering terlihat pada infeksi dengan S. japonicum dan jarang terlihat pada S. haematobium.
  • Waktu cacing mengeluarkan telurnya (3–9 bulan pasca infeksi), dengan gejala-gejala lokal & ektopik.
1. Schistosoma haematobium
Endemis di seluruh lembah sungai Nil dan   menyebar ke seluruh  Afrika.
Sarang-sarang endemic ditemukan di Israel. Yordania, Suriah, Irak, Arab, Yaman, dan  daerah kecil di Pantai Barat India.
2. Schistosoma mansoni
Ditemukan di Afrika, berbagai negara Arab, Amerika Selatan, dan Tengah.
Mirasidium memiliki waktu yang pendek (24 jam), tidak mencari makan, tapi mencari keong sebagai hospes perantara.
Cacing dewasa jantan berukuran 1 cm sedangkan betina 1,4 cm.
3. Schistosoma japonicum/orientalis
Ditemukan di Timur Jauh (RRC, Korea, Jepang, Taiwan, Filipina). Di Indonesia endemik di Danau Lindu danLembah Napu (Sulawesi Tengah).

Urutan ukuran dari yang terpanjang adalah S. japonicum > S. haematobium > S. mansoni

Trematoda Hati

Trematoda hati punya 2 hospes perantara, yakni HP I dan HP II (bukan Harry Potter ya.. *krik).
Perkembangan dalam keong: M-S-R-C (Mirasidium-Sporokista-Redia-Cercaria).
Cercaria kemudian nempel di kulit ikan, di otot-otot ikan berubah menjadi metaserkaria.

1. Clonorchis sinensis
Tersebar di Timur Jauh. Daerah endemik: Korea, Indocina, RRC Selatan, Taiwan, Jepang.
2. Opistorchis felineus
Distribusi: Eropa Tengah, Selatan, Timur, Asia, Vietnam, India.
Ukuran cacing dewasa: 7-12 mm.
3. Opistorchis viverrini
Ditemukan di Muangthai, Malaysia, Thailand Utara, dan Laos.
Sama dengan O. felineus, bedanya pada bentuk testis dan kelenjar vitellaria.
Telur, patologi, dan gejala klinik sama dengan C. sinensis.
4. Fasciola hepatica
Ukuran cacing dewasa: 20-30 x 8-13 mm.
3 bulan setelah indeksi, telur yang dihasilkan oleh cacng dewasa dalam tubuh keluar melalui saluran empedu ke usus lalu keluar bersama feses.
HP II: Selada air.
5. Fasciola gigantica
Hanya lebih panjang dari Fascioloa hepatica, batil isap perutnya lebih besar dari batil isap mulut, cephalic cone lebih pendek dan bahu kurang jelas, organ reproduksi lebih anterior, serta telurnya lebih panjang.
HP II: Selada air.

Trematoda Paru

Paragonimus westermani
Tersebar di Timu Jauh dan Asia Tenggara.
Cacing dewasa yang masih hidup berbentuk seperti sendok, sedangkan yang sudah mati berbentuk seperti biji kopi, berpasangan. Berukuran 8-12 x 4-6 mm.
Telur matang dalam air dalam waktu 16 hari.
Menjadi cacing dewasa di paru-paru dalam waktu 8-12 minggu.
HP II: Ketam

Trematoda Usus

1. Fasciolopsis buski
Parasit terbesar dalam tubuh manusia: panjang 2 – 7,5 cm, lebar 2 – 20 mm, tebal 0,5– 3 mm
Cercaria setelah berenang dalam air dalam 1–3 minggu melekat dan menjadi Metacercaria pada tumbuhan air.
HP II: tumbuhan air
2. Heterophyes heterophyes
Ukuran: 1,3x0,5 mm.
Batil isap genital di pinggir kiri batil isap perut.
HP II: ikan mugil
Kadang-kadang cacing menginfeksi jaringan, sehingga telur tidak keluar melalui feses, menyebar melalui pembuluh limfe atau darah ke berbagai organ dan menimbulkan gejala luar biasa.
Banyak ditemukan di Port Said (Mesir) karenaa kebiasaan makan ikan mugil mentah atau dimasak kurang dari 15 hari.
3. Metagonimus yokogawai
Ukuran: 1,4x0,6 mm.
M-S-R1-R2-C dalam tubuh keong (HP I).
HP II: ikan salem air tawar dari genus Plecoglossus dan Salmo, dan ikan jenis Cyprinoid dari Richardsonium (Leuciscus) dan Odontobutis.
4. Echinostoma sp.
Ukuran: panjang 2,5-6,5 mm, lebar 1-1,35 mm tebal 0,5-0,6 mm.
Sering ditemukan di Timur Jauh, Filipina, Thailand, Siberia, Balkan, Yunani, dan Spanyol.
HP II: Keong air dari genus Pila, Corbicula (remis), ikan, tumbuh-tumbuhan air.
5. Gastrodiscoides hominis
Ukuran: 5-8 x 5-14 mm.
HP II: tumbuh-tumbuhan air.
Menyerang caecum dan colon ascendens.

Siklus Hidup Helminthes (Cacing)

Salah satu ilmu yang dipelajari dalam parasitologi adalah helmintologi.
Berikut beberapa life cycle dari cacing-cacing yang menginfeksi manusia:

SIklus hidup Loa-loa

Siklus hidup Onchocerca volvulus

Siklus hidup Clonorchis sinensis

Siklus hidup Echinostoma sp.

Siklus hidup Fasciola hepatica

Siklus hidup Fasciolopsis buski

Siklus hidup Heterophyes heterophyes

Siklus hidup Metagonimus yokogawai

Siklus hidup Necator americanus

Siklus hidup Opistorchis viverrini

Siklus hidup Opistorchis felineus

Siklus hidup Paragonimus westermani

Siklus hidup Strongyloides stercoralis

Siklus hidup Trichostrongylus stercoralis

Siklus hidup Trichinella spiralis

Siklus hidup Trichuris trichiura

Siklus hidup Oxyuris vermicularis dan Enterobius vermicularis

Siklus hidup Wuchereria bancrofti

Rangkuman Praktikum Parasitologi Kedokteran

I. PROTOZOLOGI

Mastigophora

Flagella Traktus Digestivus dan Traktikus Urogenital
1. Tropozoit Giardia lamblia
Ciri-ciri:
- Bentuk seperti jambu monyet
- Punya sepasang aksostil, sepasang benda parabasal, dan 2 inti
- Flagella 4 pasang

2. Kista Giardia Lamblia
Ciri-ciri:
- Bentuk lonjong
- Inti 2-4
- Dinding rangkap

3. Tropozoit Trichomonas vaginalis

Ciri-ciri:
- Bentuk jambu monyet
- Inti 1, lonjong
- 4 flagella
- Membran bergelombang

4. Tripozoit Chilomastix mesnili

Ciri-ciri:
- Bentuk jambu monyet
- Inti 1 dengan karyosom
- Punya 3 flagel anterior dan 1 flagel halus dalam sitostoma
- Meruncing di bagian posterior

5. Takizoit/proliferatif Toxoplasma gondii

Ciri-ciri:
- Bentuk bulan sabit
- Satu-satu atau berkelompok
- Letak dalam atau luar sel

Flagella Darah dan Jaringan
1. Leishmania donovani amastigot

Ciri-ciri:
- Tidak punya flagella
- Bentuk lonjong
- Tidak punya undulating membrane

2. Leishmania tropica promastigot/leptomonad

Ciri-ciri:
- Tidak punya undulating membrane
- Punya 1 flagella
- Bentuk memanjang
- 1 inti

3. Trypanosoma rhodesience

Ciri-ciri:
- Punya undulating membrane
- Punya 1 flagella
- Bentuk memanjang
- 1 inti di tengah

Sporozoa

1. Plasmodium falciparum makrogametosit

Ciri-ciri:
- Bentuk pisang langsing
- Plasma biru keunguan
- Eritrosit tidak membesar

2. Plasmodium vivax tropozoit

Ciri-ciri:
- Bentuk amuboid
- Ada titik schuffner
- Eritrosit membesar

II. HELMINTOLOGI

Nematoda

Nematoda Usus
1. Enterobius vermicularis jantan

Ciri-ciri:
- Ada cephalic alae
- Punya bulbus pharingeal
- Ekor ada caudal papillae dan melengkung

2. Enterobius vermicularis betina

Ciri-ciri:
- Ada cephalic alae
- Punya bulbus pharingeal
- Punya vagina di tengah badan
- Ekor lurus dan runcing

3. Trichinella spiralis jantan

Ciri-ciri:
- Bentuk halus seperti benang
- Terdapat 2 papil pada ekor

4. Trichuris trichiura betina

Ciri-ciri:
- 2/5 bagian anterior halus
- 3/5 posterior tebal
- Ekor lurus
- Ada ovarium dan uterus

5. Necator americanus jantan

Ciri-ciri:
- Ekor ada bursa copulatrix
- Bentuk silinder
- Kepala ada buccal capsul
- Sepasang gigi bentuk bulan sabit

6. Necator americanus betina

Ciri-ciri:
- Ada vulva di tengah
- Sepasang gigi bentuk bulan sabit
- Ekor runcing dan lurus

7. Ancylostoma caninum jantan

Ciri-ciri:
- Gigi 3 pasang
- Badan melengkung huruf C

8. Ancylostoma ceylanicum jantan

Ciri-ciri:
- Gigi 2 pasang
- 1 pasang gigi menghadap medial
- 1 pasang gigi menghadap lateral

9. Telur Oxyuris vermicularis

Ciri-ciri:
- Berisi embrio
- Dinding agak tebal dan jernih
- Bentuk lonjong

10. Ascaris lumbricoides betina

Ciri-ciri:
- Bentuk silindris
- Ekor lurus, runcing
- Ada cincin kopulasi

11. Mulut Ascaris lumbricoides

Ciri-ciri:
- Mempunyai 3 bibir
- Sepasang bibir lateral
- 1 bibir medial

12. Telur Trichostrongylus orientalis dan Strongyloides stercoralis

Ciri-ciri:
- Warna transparan
- Telur Trichostrongylus orientalis ujungnya agak meruncing, dinding 1 lapis, berisi morula
- Telur Strongyloides stercoralis posteriornya membuka (rounded)
- Dinding 1 lapis, hyalin tipis

Nematoda Jaringan
1. Brugia malayi dewasa

Ciri-ciri:
- Punya sarung
- Cephalic space 2:1
- Inti ekor 2

2. Mikrofilaria brugia timori
- Badan patah-patah
- Cephalic space 3:1
- Punya sarung
- Inti ekor 2

Trematoda

Trematoda Paru
Telur Paragonimus westermani
Ciri-ciri:
- Bentuk oval
- Warna coklat keemasan
- Ada ruang kosong dikelilingi sel bentuk persegi

Trematoda Usus
1. Metagonimus yokogawai

Ciri-ciri:
- Bentuk seperti jambu
- Ada duri kecil
- Testis 2, tersusun berdampingan

2. Echinostoma malayanum

Ciri-ciri:
- Testis 2 berlobus, dalam, letak tandem
- Mempunyai batil isap perut dan mulut
- Bentuk seperti daun

3. Echinostoma iliocanum

Ciri-ciri:
- Bentuk seperti daun
- Testis 2 berlobus, dangkal, letak tandem
- Punya batil isap perut dan mulut

4. Gastrodiscoides hominis

Ciri-ciri:
- Punya sekum bercabang 2
- Bentuk seperti cakram dengan batil isap perut yang besar
- Testis berlobus tandem di bawah percabangan sekum
- Vitellaria di bagian lateral posterior
- Bentuk seperti jambu

Trematoda Hati
1. Clonorchis sinensis

Ciri-ciri:
- Sekum bercabang 2
- Uterus berkelok-kelok
- Testis tandem cranio-caudal, bercabang-cabang
- Pipih, lancet, transparan
- Ada spinose
- Ovarium 1/3 badan

2. Opistorchis felineus

Ciri-ciri:
- Ovarium jauh di depan testis
- Testis tandem berlobus miring cranio-caudal
- Vitellaria di 1/3 tengah lateral badan
- Pipih, lancet, transparan

3. Opistorchis viverrini

Ciri-ciri:
- Testis tandem berlobus miring cranio-caudal
- Ovarium dekat dengan testis
- Vitellaria lateral 2/3 badan

4. Fasciola hepatica

Ciri-ciri:
- Bahu jelas
- Batil isap perut ukurannya sama dengan batil isap kepala
- Kepala bentuk kerucut
- Sekum, testis, vitellaria bercabang-cabang

5. Fasciola gigantica

Ciri-ciri:
- Bahu tidak jelas
- Batil isap perut ukurannya lebih besar dari batil isap kepala
- Kepala bentuk kerucut
- Sekum, testis, vitellaria bercabang-cabang

Trematoda Darah
1. Schistosoma mansoni

Ciri-ciri:
- Ada oral dan ventral sucker
- Testis 8-9 jelas di belakang ventral sucker
- Jantan ada duri-duri besar/kasar
- Betina berada di dalam jantan, berisi telur

2. Schistosoma mekongi

Ciri-ciri:
- Ada oral dan ventral sucker
- Testis 7 halus di belakang ventral sucker
- Jantan halus tanpa duri
- Betina berada di dalam jantan, berisi banyak telur

3. Serkaria schistosoma

Ciri-ciri:
- Terdiri dari badan dan ekor
- Sekum buntu seperti huruf Y
- Ekor bercabang 2

Cestoda

1. Taenia saginata proglotid gravid

Ciri-ciri:
- Percabangan uterus 15-20 per sisi
- Ada lubang kelamin di pinggir

2. Taenia saginata proglotid matang

Ciri-ciri:
- Ada glandula vitellaria di bagian bawah
- Struktur alat kelamin jantan dan betina lengkap
- Ovarium 2 lobus

3. Taenia solium proglotid gravid

Ciri-ciri:
- Uterus 7-12 cabang
- Lubang kelamin di pinggir
- Tidak punya lubang uterus

4. Hymenolepis nana

Ciri-ciri:
- Proglotid gravid punya banyak telur dan lubang kelamin di pinggir
- Proglotid matang punya 3 testis
- Bentuk proglotid trapesium
- Skoleks punya batil isap dan rostellum dengan kait

5. Hymenolepis diminuta

Ciri-ciri:
- Proglotid matang punya 3 testis
- Bentuk proglotid trapesium
- Proglotid gravid mempunyai uterus dan telur
- Skoleks bulat

6. Raillietina sp.

Ciri-ciri:
- Proglotid bentuk trapesium
- Skoleks punya 4 batil isap dan rostellum dengan 2 mahkota dan kait-kait
- Proglotid gravid bentuk rice grain

III. ENTOMOLOGI

Metamorfosis Tidak Lengkap (contoh: Periplaneta australiensis)
- Telur: dalam kantong (ooteka)
- Larva: kecil, putih, tidak bersayap
- Nympha: ada sayap tapi alat kelamin belum sempurna
- Dewasa: ada sayap dan alat kelamin sudah sempurna

Kelas Crustacea
- Tubuh: Cephalothorax + abdomen
- Antena 2 pasang
- Kaki 5 pasang

Ordo Copepoda
1. Cyclops sp.

Ciri-ciri:
- Antena yang 1 pasang lebih panjang daripada cephalothorax
- Betina: ada kantong telur (ovisac)
- Bentuk seperti buah pir (pyriformis)

2. Diaptomus sp.
Ciri-ciri:
- Antena sama panjang dan lebih pendek dari cephalothorax
- Betina: ada kantong telur (ovisac)
- Bentuk pyriformis

Ordo Decapoda
1. Potamon sp. (ketam)

Ciri-ciri:
- Jantan: abdomen lebih kecil
- Kaki pertama membentuk alat penjepit (pedipalp)
- Abdomen melipat ke ventral cephalothorax, ujug membulat

2. Udang

Ciri-ciri:
- Abdomen tidak melipat
- Kaki untuk berjalan pada cephalothorax
- Kaki untuk mengayuh pada abdomen

Kelas Diplopoda
Lengkibang (milipedes)

Ciri-ciri:
- Kepala + badan yg beruas-ruas
- Bulat panjang
- Tiap ruas terdapat 2 pasang kaki
- Antena 1 pasang

Kelas Chilopoda
Kelabang, (centipedes)

Ciri-ciri:
- Kepala + badan beruas-ruas
- Antena 1 pasang
- Kaki 1 pasang tiap ruas

Kelas Arachnida
- Kaki 4 pasang

Ordo Scorpionida
Scorpion (kalajengking)

Ciri-ciri:
- Terdiri dari cephalothorax dan abdomen (pre 7 ruas, post-abdomen 5 ruas)
- Telson pada ruas terakhir
- Ada pedipalp
- Pecten di dekat pangkal kaki ke-4

Ordo Aranea
Spider (laba-laba)

Ciri-ciri:
- Terdiri dari cephalothorax dan abdomen, dihubungkan oleh pedicel
- Chelicera 1 pasang

Ordo Acarina
1. Sarcoptidae Scabiei

Ciri-ciri:
- Teridir ari kepa + badan yg berbentuk seperti kantong
- Kaki 2 pasang ventral, 2 pasang ventral
- Betina: ada ambulakra (alat penghisap) pada kaki ke-4)
- Jantan: ujung kaki ke-4 berambut

2. Rhipicephalus sanguineus

Ciri-ciri:
- Betina: scutum menutupi sebagian tubuh
- Jantan: scutum menutupi seluruh tubuh


Kelas Insecta

Ordo Diptera
Famili Culicidae
1. Telur Anopheles

Ciri-ciri:
- Bentuk lonjong seperti perahu canoe
- Ujung melancip
- Punya pelampung

2. Telur Aedes

Ciri-ciri:
- Bentuk lonjong seperti rugby
- Ada garis pada dinding, seperti kasa
- Tidak punya pelampung

3. Telur Mansonia

Ciri-ciri:
- Bentuk lonjong seperti kumparan
- Punya spina di salah satu ujung

4. Telur Culex

Ciri-ciri:
- Bentuk seperti peluru
- Ada corolla pada posterior
- Berkelompok membentuk seperti rakit
- Tanpa pelampung

Ordo Anoplura
Famili Pediculidae
1. Pediculus humanus capitis

Ciri-ciri:
- Punya 3 pasang kaki
- 1 pasang antena
- Jantan: alat kelamin seperti ujung tombak
- Betina: alat kelamin seperti huruf V terbalik

2. Phthirus pubis

Ciri-ciri:
- 3 pasang kaki
- Kuku seperti ketam
- 1 pasang antena
- Bentuk badan mirip ketam

Ordo Hemiptera
Famili Culicidae
Cimex sp.

Ciri-ciri:
- Punya alat penusuk
- Punya 1 pasang antena
- Tidak punya sayap
- Betina: ada cincin kopulasi pada segmen ke-5
- Jantan: Bagian posterior seperti bulan sabit

Ordo Siphonaptera
-Kaki panjang

1. Xenopsylla cheopis betina

Ciri-ciri:
- Tidak punya sisir
- Alat kelamin seperti bentuk telepon terbalik
- Kaki belakang lebih besar

2. Ctenocephalides felis

Ciri-ciri:
- Punya sisir pipi dan prothorax
- Jantan: sisir lebih tebal dan tidak rapi, kaki lebih panjang, posterior seperti tombak
- Betina: sisir rapi, abdomen lebih panjang

3. Xenopsyllus fasciatus jantan

Ciri-ciri:
- Posterior seperti ujung tombak
- Sisir hanya pada prothorax


Sekian, mungkin sampe sini saja.. Untuk klinis, udah ga sanggup lagi nambahin, mau ngafal dulu..
Bismillah o:')
















OSPE Mikrobiologi

Hai blog, alhamdulillah OSPE Mikrobio tadi ternyata gak semengerikan yang dibayangkan *ezee
Semoga bisa dpt nilai sesuai dgn usaha dan tentu nya baik, amiin o:)
Oke, 1 dari 7 komponen telah terlewatkan, perjuangan baru saja dimulaai, spartaaaa! *loh

Lama-lama kok gue ngerasa rada aneh ya ngomong sama blog -___- haha tapi gapapa yang penting bisa dibaca dan jadi kenang-kenangan nantinya :)
'Cause this is what I call capturing with letters..

Ujian Akhir Blok (MCQ IT, MCQ Integrasi, OSPE, OSCE)

Blog ini baru dibuat 4 hari yang lalu, yaitu tanggal 18 Oktober 2012 dan sudah memiliki 4 posting.. Semoga bermanfaat, dan semoga ujian blok saya 2 minggu ke depan beserta rekan-rekan sejawat yang sudah berusaha semua dilancarkan oleh Allah swt.. Setelah berusaha, apa yang harus kita lakukan? Tawakkal kepada-Nya :) Setelah mendapat hasil, barulah kita Qana'ah kepada-Nya, karena sesungguhnya Allah swt. tahu yang terbaik untuk kita.
Bismillahirrahmanirrahim! Allahumma yasir wa la tu'assir o: )

Praktikum Mikrobiologi #3: Systemic Bacteria & Tes Sensitivitas Antimikroba (TSA)



 Systemic Bacteria

Secara normal, darah merupakan komponen tubuh yang steril bebas dari mikroorganisme. Sepsis serta infeksi aliran darah membutuhkan pemeriksaan penunjang untuk mengetahui organisme penyebab infeksi. Biakan darah merupakan pemeriksaan mikrobiologi yang sangat penting dalam membantu menegakkan diagnosa dan membantu pemilihan tatalaksana yang tepat untuk infeksi aliran darah.
Biakan darah dilakukan dengan memasukkan darah ke dalam medium kultur yang mengandung nutrisi-nutrisi untuk pertumbuhan bakteri kemudian diinkubasi. Medium yang umumnya digunakan adalah Brain Heart Infusion (BHI) atau tioglikolat. Tujuan biakan darah adalah untuk menentukan mikroorganisme patogen penyebab infeksi aliran darah.





Prinsip pengambilan sampel darah untuk biakan darah:
1.      Terdapat gejala klinis infeksi aliran darah atau sepsis
2.      Pasien sebaiknya belum mendapat antibiotik
3.      Sampel yang diambil sebaiknya dua atau lebih, diambil dengan cara steril dan berasal dari tempat pungsi vena yang berbeda
4.      Pengambilan waktu yang tepat (contoh: saat demam), pada bakteremia intermitten darah diambil 2-3 kali dari tempat berbeda selama 24 jam, untuk tifoid diambil pada demam minggu pertama

Jumlah darah yang diambil untuk dewasa: 10-20 mL, anak-anak 3-5 mL, bayi 1-3 mL.

Darah diambil melalui vena atau arteri secara aseptik, bersihkan daerah pengambilan dengan iodine tincture 2% lalu di-swab melingkar dari tengah ke tepi, diikuti dengan alkohol 70% dengan cara yang sama.
Darah langsung dimasukkan ke dalam media pembiakan tanpa antikoagulan dan kirim segera ke laboratorium dalam suhu kamar.



Antimicrobial Susceptibility Test

Metode AST dibagi menjadi 3:

1. Dilusi
Uji kepekaan metode dilusi digunakan untuk menentuan konsentrasi minimal antimikroba agar dapat menghambat atau membunuh mikroorganisme, disebut dengan Minimum Inhibitory Concentration (MIC). Metode dilusi terbagi menjadi dilusi kaldu dan agar.

2. Difusi
Metode AST cakram difusi adalah metode yang paling praktis dan masih merupakan metode pilihan untuk kebanyakan laboratorium.
Metode Kirby-Bauer dan Stokes merupakan metode yang direkomendasikan oleh NCCLS.  




Tabel ukuran zona inhibisi pada beberapa antibiotik
S=Susceptible; I=Intermediate resistance; R=Resistant
Tabel di atas menunjukkan bahwa semakin besar zona inhibisi atau MIC nya, maka semakin baik pula antibiotik yg digunakan dalam uji tersebut. Tabel di atas dapat digunakan sebagai acuan untuk menentukan sensitivitas suatu antibiotik terhadap suatu spesies bakteri.

3. Difusi dan Dilusi
E test --> metode kuantitatif yang menggunakan cara dilusi dan difusi
E test dapat digunakan untuk menentukan MIC untuk organisme fastidious seperti S. pneumoniae,  streptokokus ß-hemolitikus, N. gonorrhoeae, Haemophilus sp. dan anaerob.
E test adalah metode yang sederhana, akurat dan dapat diandalkan untuk menentukan MIC untuk spektrum yang luas dari agen infeksi.
E-Test

Praktikum Mikrobiologi #2: Pewarnaan Ziehl Neelsen

Pewarnaan Ziehl Neelsen, termasuk pewarnaan tahan asam. Biasanya dipakai untuk mewarnai golongan Mycobacterium (M. tuberculosis dan M. leprae) dan Actinomyces.
Bakteri genus Mycobacterium dan beberapa spesies nocardia pada dinding selnya mengandung banyak zat lipid (lemak) sehingga bersifat permeable dengan pewarnaan biasa. Bakteri tersebut bersifat tahan asam (+) terhadap pewarnaan tahan asam. Pewarnaan tahan asam dapat digunakan untuk membantu menegakkan diagnosa tuberculosis.
Pewarnaan ini merupakan prosedur untuk membedakan bakteri menjadi 2 kelompok tahan asam dan tidak tahan asam.
Bila zat warna yang telah terpenetrasi tidak dapat dilarutkan dengan alkohol asam, maka bakteri tersebut disebut tahan asam sedangkan sebaliknya disebut tidak tahan asam.

Bahan pemeriksaan TB biasanya berupa sputum yang diambil dari pasien tersangka KP (Koch pulmonum), tetapi dapat pula diambil dari lokasi lain seperti cairan otak (Liquor Cerebro Spinalis), getah lambung, urine, ulkus, dll.

Prinsip Pewarnaan

Bakteri tahan asam (BTA) akan memberikan warna merah, sedangkan yang tidak tahan asam akan berwarna biru.


Cara Pewarnaan Ziehl Neelsen

A. Alat dan Bahan:
1. Object glass
2. Carbol fuchsin 0,3%
3. Alkohol asam 3% (Alkohol + konsentrasi HCl 3%)
4. Methylen-blue 0,3%
5. Air
6. Ose
7. Lampu bunsen/spiritus

B. Cara Membuat Sediaan:
1.    Bersihkan objek gelas, beri label
2.    Sterilkan ose, dinginkan
3.    Ambil 1 ose sputum yang kental (hijau kuning) letakkan diatas objek gelas, ratakan.
4.    Sediaan biarkan kering pada suhu kamar.
5.    Setelah kering fiksasi denga melewatkkan diatas nyala api sebanyak 3 x, sediaan siap untuk diwarnai.

C. Cara Pewarnaan ZN:
1.    Sediaan dituangi Carbol Fuchsin sampai penuh
2.    Panaskan selama 3-5 menit, jangan sampai mendidih
3.    Biarkan dingin selama 5 menit, cuci dengan air
4.    Dekolorisasi dengan alkohol asam 10-30 detik, cuci dengan air
5.    Tuangi dengan methylen blue selama 20-30 detik, cuci dengan air


Tambahan:
Cara pemeriksaan BTA dari sputum dengan oil imersi

1. Teteskan oil imersi pada sediaan  sputum lihat pada pembesaran lensa objektif 100x carilah BTA yang berbentuk batang warna merah.
2. Periksa dengan cara mengeser dan membentuk zig zag dari atas kebawah kemudian ulangi dengan berlawanan arah.

Pembacaan BTA sputum menggunakan skala IUATLD (International Union Against Tuberculosis and Lung Diseases)

Tidak ditemukan BTA dalam 100 lp, disebut negatif
Ditemukan 1-9 BTA dalam 100 lp, ditulis jumlah kuman yang ditemukan
Ditemukan 10-99 BTA dalam 100 lp, disebut + atau (1+)
Ditemukan 1-10 BTA dalam 1 lp, disebut ++ atau (2+)
Ditemukan >10 BTA dlam 1 lp, disebut +++ atau (3+)

Pembiakan M. tuberculosis
  • Inkubasi 6-8 minggu
  • Pembiakan M. tuberculosis dengan media Lowenstein-Jenses atau Ogawa, lebih sering Ogawa.
  • Tes sensitivitas dengan obat rifampisin, isoniazida, pira zinamida, etambutol, streptomisin, dll.
  • Bisa juga dilakukan tes biokimiawi
koloni M. tuberkulosis